Header image

Cerpen Bahasa Indonesia

Posted by Atshiila in Bahasa Indonesia 7 | Portofolio 2013 on Monday, March 18th, 2013 at 10:57 am

Hilang

Aku berlari di sebuah jalan yang melengkung-lengkung. Pagi itu dingin sekali, matahari tidak bersinar begitu terang tetapi burung-burung bernyanyi dengan merdu. Kupu-kupu berterbangan, langit berwarna jingga seakan matahari baru saja terbit. Padahal saat itu sudah jam setengah 8. Walaupun langit agak mendung, aku dapat melihat dengan jelas gedung middle school yang menjulang tinggi ke langit seperti menara eiffel. Aku meghirup udara yang segar, baunya seperti bunga dan embun pagi hari, dengan seperti biasa aku berlari ke kelas periode pertama. Hari itu adalah hari rabu, jadi aku berlari ke kelas olahraga. Sesampainya di ruang ganti perempuan yang terletak di dekat caffe olahraga, aku menyapa teman-temanku. Wajah mereka berseri-seri seakan melihat surga, mereka tidak sabar untuk memulai pelajaran. Hari ini kita akan mengadakan turnamen bulu tangkis. Aku tidak begitu bersemangat akan turnamen itu. Harus ku akui bahwa aku tidak mahir sama sekali dalam bermain bulu tangkis. Well, tidak mahir jika dibandingkan teman-teman yang lain. Aku hanya tersenyum kepada mereka dan memasang ekspresi gembira di wajahku, padahal aku gelisah di dalam hati. Bulu tangkis bukanlah inti dari cerita ini, hal yang membuatku sangat gelisah seakan-akan aku ingin meledak terjadi setelah turnamen tersebut. Jadi, aku tidak terlalu mementingkan menang-kalahnya aku di turnamen karena aku tau apa yang akan terjadi. Aku akan kalah.

Kekalahanku tersebut tidak membuatku sedih, aku justru tertawa gembira dengan teman-teman saat kita keluar dari gym pada pukul 08:35. Kita sedang membicarakan kecerobohanku saat bermain. Kegembiraan itu tiba-tiba lenyap ketika aku masuk kedalam ruang ganti. Saat aku pergi ke lokerku, yaitu loker nomor 3, aku menyadari sesuatu. Semua barang yang aku tinggalkan sebelum pergi ke gym ada di situ, kecuali satu. Laptopku hilang! Aku mencari di seluruh sudut ruangan, mengecek loker-loker yang terbuka, meraba-raba bagian atas loker, aku bahkan mengecek toilet! Aku tidak peduli dengan bajuku yang basah kuyup karena keringat, tak peduli dengan kakiku yang pegal karena lelah. Aku tidak punya waktu untuk duduk dan bersantai, aku harus menemukan laptopku! Mungkin kalian tidak tahu seberapa pentingnya laptop itu bagi aku. Aku mengerjakan PR, belajar, bermain, mendengarkan musik, menonton dan berhubungan bersama teman dengan laptop. Tidak ada hari tanpa laptop. Beberapa menit lagi aku harus berjalan ke kelas selanjutnya, kelas Bahasa Indonesia yang terletak jauh di sebelah kiri lapangan sepak bola. Dengan tergesa-gesa aku mengganti pakaian olahragaku, mencoba merapikan rambutku dan menaruh semua barang-barang ke dalam tas. Aku masih menengok ke kiri dan kanan untuk mencari laptop. Teman-temanku memperhatikan wajahku yang gelisah, seperti takut ada bom di ruang ganti ini.
“Kamu kenapa? Takut ada hantu?”
“Hantu? Kamu liat laptopku tidak? Tadi aku taruh di loker ini.”, Aku menunjuk loker nomer 3.
“Nggak, emangnya kenapa?”
Aku menghiraukan pertanyaannya. Mungkin ini sikap yang agak kasar, tapi aku benar-benar tidak punya waktu untuk menjawab. Aku hanya mengambil tas sekolahku yang berwarna coklat tua dan pergi keluar dari ruang ganti. Tanpa berfikir, aku langsung menanyakan security yang biasanya ada di depan ruang ganti tentang laptopku. Aku sama sekali tidak terkejut ketika mereka bilang, mereka tidak melihatnya. Kedua security ini adalah laki-laki, mereka sudah pasti tidak di izinkan masuk ke ruang ganti perempuan.
“Memangnya laptopmu kenapa?”, Tanya security pertama yang bermata jereng.
Lalu aku menceritakan tentang apa yang terjadi.
Security kedua yang berhidung bengkok berkata, “Nanti akan kami cari laptopnya ya dek. Gak usah takut, pasti ketemu.”
Pasti ketemu? Mungkinkah ketemu? Bagaimana jika ada seseorang yang mencuri laptop itu. Mungkinkah akan ketemu? Aku mengecek jam tangan kemudian terkejut. Tidak bisa dibayangkan seberapa cepat waktu berlalu. Aku berlari ke kelas Bahasa dua kali lebih cepat, gawat sekali jika aku telat. Saat aku berlari, aku memutar lagu Beethoven di kepalaku.

Sesampainya di kelas Bahasa Indonesia, aku lega sekali karena tidak dihukum. Bukan hanya itu, aku lega karena guruku tidak menanyai kenapa aku telat, kita juga tidak memerlukan laptop untuk belajar pada pagi itu. Aku duduk di kursi yang biasanya aku tempati. Ruang kelas itu sangat dingin seperti biasanya. Bu Mira mulai berbicara tentang apa yang kita akan lakukan hari itu, hanya saja pikiranku sedang tidak fokus. Bagaimana mau fokus, kalau data-data sekolah yang sangat penting ada di laptopku semua? Haruskah aku mengulang semua tugas yang akan dinilai itu? Cerita bahasa Inggris yang berjumlah 7 halaman dan aku kerjakan selama 4 jam ada di dalamnya, Imovie untuk humanities yang aku kerjakan selama 2 bulan juga ada disana, belum lagi science essay yang deadlinenya besok. Kedua mataku tertuju ke jendela samping kursiku, bukan ke papan tulis. Yang aku dengar saat itu hanyalah bisikan-bisikan, dengan melihat matahari yang mulai bersinar terang, aku mengalami flashback tentang apa yang terjadi di ruang ganti.

Aku ingat sekarang. Kecerobohan yang aku sangat sesali. Aku tidak mengunci pintu loker. Kunci loker tersebut rusak, jadi aku tinggal kuncinya di dalam loker berserta barang-barangku yang lain. Mengapa aku tidak menukar kunci itu dengan loker yang lain? Oh! Betapa cerobohnya aku. Untuk mencoba mengingat-ingat lebih jelas tentang apa yang terjadi, aku memejamkan mata. Sekarang aku tahu, tidak mengunci loker karena aku kira laptop tersebut akan aman disana. Ada security yang selalu menjaga. Ternyata aku salah. Pelajaran pertama untukku adalah; berhati-hatilah dan jagalah barangmu dengan baik.

Kring…kring…kring…! Bel istirahat telah berbunyi, seisi kelas langsung mengambil tas dan pergi dari ruang kelas. Namun, aku tidak sebahagia mereka. Perasaan takut campur gelisah ada dihatiku.
“Apa pelajaran berikutnya?”, Tanyaku kepada Sekar.
“Habis istirahat ada DT.”
DT? Apakah nasibku bisa menjadi lebih buruk? DT adalah singkatan untuk design technology yang pastinya tidak ada hari tanpa memakai laptop dikelas itu. Ditambah lagi, di kelas DT kita disuruh untuk membuat presentasi. Padahal presentasi aku sudah hampir selesai! Hari ini adalah hari terburuk yang pernah aku alami. Aku berdoa agar aku dapat belajar tanpa laptop hari ini.

Doaku ternyata tidak terkabulkan. Sekarang aku hanya duduk seperti orang tolol karena tidak tahu apa yang aku harus lakukan. Hari ini guru DT tidak masuk karena mengalami kecelakan. Kasihan sekali guruku, semoga ia cepat sembuh agar dapat mengajar kita kembali. Karena tidak melakukan apa-apa, aku hanya mengamati teman-teman kelas 7 aku. Baru 4 bulan aku berada disekolah ini, aku belum tahu pasti bagaimana sifat teman-teman. Unik-unik dan berbeda sekali sifat mereka. Alice, gadis inggris yang besar kepala sedang asyik mengoceh tentang tas calvin klein nya yang baru. Ia adalah gadis kaya raya yang namanya baru naik daun. Aku tertawa didalam hati ketika melihatnya asyik mengoceh tentang kehebatannya, tidak satupun temanku ada yang mau mendengarkan. Aku tidak bisa percaya bahwa Alice tidak menyadarinya. Di sudut ruangan, duduklah Thomas si jangkung yang pemalu. Ia selalu duduk di ujung ruangan, jarang berbicara dan jarang terlihat. Mawar, gadis yang pemurah juga jarang berbicara. Bedanya dengan Thomas si jangkung, Mawar selalu tersenyum. Walaupun Mawar pendiam, ia adalah salah satu anak terpintar di kelas. Seperti yang banyak dikatakan orang-orang, “Tong penuh tidak berguncang, tong setengah yang berguncang.” Aktivitas mengamati teman-teman menjadi sangat membosankan setelah 7 menit. Maka, aku memutuskan untuk keluar dari kelas dan pergi ke ruang ganti olahraga perempuan. Siapa tahu apa yang dikatakan pria berhidung bengkok itu benar. Aku melewati jalan melengkung yang sama seperti di pagi hari. Namun, sekarang matahari bersinar di atas kepalaku, burung-burung sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah lebah berwarna hitam. Ketika aku sampai di depan pos ruang ganti, pria bermata jereng tidak ada lagi. Si pria berhidung bengkok tersenyum kepadaku. Aku tahu apa artinya, ia belum menemukan laptopku.
“Bagaimana? Sudah ketemu blom?”
“Belum ketemu dek. Nanti aku periksa lagi ya…”
Mukanya yang sok manis membuatku kesal. Aku mengamatinya, dari ekspresi matanya aku dapat melihat bahwa ia tidak terlalu mempedulikanku. Hatiku menjadi panas. Memang ini adalah salahku, namun bisakah ia mambantu aku? Aku tidak dapat belajar dan berkonsentrasi dengan baik disekolah. Tapi itu bukanlah yang aku paling takuti. Yang aku takuti adalah memberi tahu ayah dan ibu tentang kejadian ini. Aku tahu bahwa ayahku dapat membayar laptop baru. Tapi yang diharapkan dan dipentingkan ayahku adalah kedisiplinan dan tanggung jawab. Aku tidak dapat mengecewakannya, aku tidak mau. Ia telah bekerja keras untukku. Agar suatu saat aku bisa menjadi orang yang hebat. Apakah ini cara aku membayar perbuatan baiknya? Hatiku makin panas, seperti ada api yang membara didalam tubuhku. Bukan marah kepada penjaga, marah kepada diriku sendiri. Aku hanya dapat terdiam dan menatap pria berhidung bengkok dengan tatapan kecewa. Tiba-tiba, guru olahragaku yang bernama Mr.Andrew lewat. Mr.Andrew berkumis tebal dan berjenggot panjang. Ia orang yang baik hati namun sangat disiplin.
“Apakah kamu baik-baik saja?” Tanyanya dalam bahasa inggris.
“Mmm… Tidak terlalu. Laptopku hilang ketika aku sedang berolahraga.”
Mr.Andrew langsung kaget. Lalu dia menanyakanku tentang ceritanya dengan sangat detail. Hal berikutnya yang aku ketahui adalah, Mr.Andrew yang berkumis tebal langsung masuk ke kamar ganti perempuan. Mengecek loker dan  memukul-mukulnya. Dia juga langsung berteriak kepada security yang ada. Harus kuakui situasi saat itu sangat menyeramkan. Ia berteriak-teriak kepada security, “Panggil bos mu! Panggil bos mu!” Security disana tidak dapat memahami bahasa inggris dan Mr.Andrew tidak dapat berbahasa indonesia dengan lancar. Jadi, aku menjadi penterjemahnya seperti google translate. 5 menit kemudian, ada paling tidak 10 security dan 5 office boy disitu. Kita mengecek seluruh gym, seperti yang dilakukan di film-film CSI. Melihat guruku yang berteriak-teriak, security yang ketakutan, membayangkan kerjaanku yang hilang dan kedua orang tuaku membuat aku sakit kepala. Membuat aku pusing 7 keliling! Ruangan seperti berputar-putar. Aku sungguh putus asa. Paling tidak, ada seseorang yang memperdulikan masalahku.

Waktu berlalu sangat cepat. Sudah waktunya aku pulang. Ibuku telah menunggu di mobil. Aku masuk, jantungku berdebar cepat. Rasanya seperti ingin copot. Ia menyapaku dengan senyuman yang manis, tapi aku tidak mengatakan sepatah kata. Tanpa kusadari, air mata telah bercukur ke daguku.
“Ibu, laptopku hilang disekolah. Maaf ya bu. Maaf aku telah mengecewakan ibu.”
Ibu hanya tersenyum dan menghapus air mataku. Aku sungguh terkejut akan perbuatannya. Aku kira, ia akan langsung marah kepadaku. Ibu langsung menanyakan apa yang terjadi. Ia juga terkejut. Kita langsung turun dari mobil dan pergi ke IQ bar yang ada di lobby. Orang yang di IQ bar bilang, mereka akan meminjamkan ku laptop jika laptopku yang lama belum ketemu. Aku sangat lega. Kita masuk kedalam mobil lagi. Ibuku berkata bahwa ia akan memberi tahu ayah sekarang. Jantungku langsung berdetak lebih keras, tapi aku tidak dapat menghentikan ibu. Selagi ibu sedang meng-email ayah, aku melihat pemandangan sekolah.

Pemandangannya indah, seperti biasa. Gedung-gedung yang menjulang, rerumputan yang sangat hijau, langit yang cerah. Semakin lama aku menatap sekolah itu, semakin rindu aku dengan sekolah yang lama. Ya, aku murid baru disitu. Sekolahku yang sekarang adalah sekolah internasional, sekolahku yang dulu adalah sekolah Islam.
Tiba-tiba ibu berkata, “Sebelum kamu lahir, Ibu tidak hanya berdoa agar kamu menjadi anak yang pintar, Ibu juga berdoa agar kamu menjadi anak yang soleh.”
Apa maksud Ibu? Apakah ia sedang mencoba untuk memberi tahu aku sesuatu? Jika Ibu sedang memberi tahu aku sesuatu, aku tidak mempunyai satupun petunjuk apa maksudnya itu.

Tik-tok, tik-tok, tik-tok. Sunyi sekali kamarku ini, sekarang sudah jam 5, hujan turun dengan deras diluar. Aku dapat memperediksi bahwa jalanan akan banjir. Tik-tok, tik-tok, tik-tok, aku biasanya sedang mendengarkankan musik dan asyik bermain skype dengan teman-teman pada saat ini, bukan mendengarkan jam. Kalau tidak sedang skype, aku paling tidak akan menonton youtube atau mengerjakan PR. Tidak satupun perkerjaan itu dapat aku lakukan. Tidak tanpa laptop tersayang. Barang elektronik yang tidak habis baterai sekarang adalah hpku. Tapi, tidak banyak yang bisa aku lakukan dengan hp. Namun, tidak apa-apalah daripada melamun. Photo, itulah yang pertama kali aku buka. Aku menyalakan radio dan ternyata lagu yang keluar adalah lagu yang aku nyanyikan bersama ketujuh sahabatku ketika perpisahan. Saat yang sangat tepat untuk galau. Lagu A Thousand Miles aku putar dengan volume sedang. Foto demi foto kulihat dengan teliti. Aku tersenyum karena haru. Ada foto ketika aku ulang tahun, mereka melempar tepung, telur dan soda kepadaku. Aku tertawa sedikit ketika melihat ekspresiku. Ada foto waktu kita bersama-sama membuat projek sains. Aku ingat betapa susahnya untuk membuat rumah dari tempat sepatu. Foto ketika sedang latihan pentas, saat fieldtrip ke Cibodas dan ketika aku ikut lomba matematika. Air mata turun seperti hujan rintik-rintik. Aku rindu sahabatku itu. Aku rindu pelukannya, senyumannya, suaranya. Aku rindu pemandangan sekolahku, aku rindu guru-guruku. Aku sangat rindu waktu di saat-saat kita shalat berjamaah sebelum makan siang. Dikepalaku aku dapat mendengar suara, “Allahu akbar, Allahu akbar” Temanku menjadi imam. Aku seolah-olah dapat merasakan hembusan angin ketika aku duduk di korido depan kelas. Air mata sekarang sudah bukan seperti hujan rintik-rintik lagi, sekarang sudah seperti hujan deras yang diluar. Apa sesungguhnya yang telah hilang dariku? Pertanyaan itu menghantui pikiranku. Kata-kata ibu juga membuatku penasaran. Sesungguhnya, yang hilang dariku, apakah itu laptop tersayang atau imanku? Aku mengalami flashback lagi. Aku ingat-ingat pertama kali aku masuk sekolah. Betapa beda, rasanya diriku. Aku merasa seperti semut kecil yang dikelilingi orang-orang besar. Pertama kali aku shalat disekolah itu. Mushola yang gelap dan sumpek, ada sajadah tapi tidak ada orang. Kemana teman-temanku yang lain? Oh ya, mereka sibuk bermain basket atau kartu. Saat aku shalat, aku membayangkan suasana yang dulu. Mushola yang terang dan dingin, ada sekitar 50 orang disana. Sahabatku berdiri disampingku. Shalat bersama. Ketika aku selesai shalat, aku tidak dapat melihat mereka. Baca qur’an setiap pagi, itu yang biasa aku lakukan dulu. Sekarang sudah tidak ada kesempatan lagi. Tidak ada guru yang berceramah. Aku berbeda. Perlu waktu yang lama untuk menyadari bahwa aku satu-satunya muslim di kelas Bahasa Indonesia. Waktu itu kita sedang mempelajari sebuah cerpen. Ada kata Al-Fatiha disitu. Mereka bertanya apa Al-Fatiha itu, mereka memintaku untuk membacakannya. Tentu saja aku bisa, tapi aneh sekali rasanya. 20 pasang mata besar memandangku dengan wajah ingin tahu. Baru pertama kalinya aku berada di suatu ruangan dan tidak seorang pun tahu apa itu Al-Fatiha. Rindu, itu yang aku rasakan sekarang. Aku berhenti mengingat masa lalu dan kembali melihat foto-foto. Tiba-tiba muncul! Fotoku waktu kecil. Pertama kali aku belajar bahasa inggris, bersama teman-teman TK. A, B, C, D, itu yang pertama kali aku pelajari. Sekarang aku sudah di sekolah internasional. Sepertinya baru kemarin aku mengeluh tentang pelajaran PKN yang banyak hafalan, sekarang sudah tidak ada lagi. 4 bulan! Sudah 4 bulan aku tidak bertemu dengan ketujuh sahabat terbaikku. Kita tersebar diseluruh Indonesia sekarang. Susah sekali mempertemukan kita di satu tempat. Mereka sibuk. Menari, mewawancara, mengerjakan eksperimen sains, ada di pesantren. Urgh! Seperti orang kuliah saja!

Aku bangun dari ranjang dan pergi ke depan pintu teras. Pintuku itu terbuat dari kaca. Tiba-tiba guntur yang perkasa berbunyi seperti gong yang dipukul dengan sangat keras. Aku terkejut sekali, mungkin semua orang juga. Hujan, tak henti-hentinya turun dari kemarin. Hujan membuatmu mengantuk dan sedih. Membuatmu merasa biru. Dari kamar ini, aku dapat melihat tamanku yang indah. Ada bermacam-macam bunga dan pohon. Yang aku lihat sekarang hanyalah bunga mawar yang berada di dekat kolam ikan. Mawar itu rontok, satu-persatu kelopaknya turun ke tanah yang dingin dan keras. Itu yang aku rasakan. Sedih dan putus asa seperti mawar yang rontok. Apa sesungguhnya yang hilang? Diriku yang dulu, kemanakah ia? Diriku yang selalu mendahului waktu shalat daripada bermain atau belajar. Diriku yang selalu bangun pagi untuk mengaji. Yang selalu berzdikir setelah shalat. Kurasa itu yang telah hilang. Iman. Aku tak pernah menyangka bahwa waktu shalat berjamaah menjadi memori yang sangat aku rindukan. Bukan memori pergi ke Eropa, atau menginap dihotel bersama teman-teman. Diriku yang sekarang selalu shalat diakhir waktu. Mendahulukan PR dan teman-teman. Sekarang, sarana menonton, mengerjakan pr dan bermain telah diambil dariku. Aku tahu sekarang apa yang ingin di beritahu Ibu. Sungguh, aku menyesali perbuatanku ini.

Aku kembali ke ranjang untuk mematikan radio. Tinggal sisa 1 foto di hpku yang belum aku lihat. Itu foto kita bertujuh. Walaupun aku merasa sangat sendiri karena perbedaanku dengan teman-teman yang lain, aku tahu bahwa aku tidak pernah sendiri. Allah selalu mengawasiku. Walaupun aku dan sahabatku jauh, aku selalu dapat menemukannya. Dihatiku. Kita tidak akan pernah berpisah. Aku dapat merasakannya, mereka tersenyum kepadaku, memelukku. Pelukannya sama seperti waktu aku menangis karena kematian kakekku. Senyumannya sama seperti senyuman yang mereka berikan sebelum aku lomba. Tiba-tiba Ibu membuka pintu kamar, ia menyerahkan kepadaku ipadnya. Aku sudah tahu apa isinya, pasti balasan email dari ayah. Aku mengambilnya dengan tangan yang gemetaran.

Singkatnya, aku lega sekali dengan apa yang ayah tulis. Ayah berkata bahwa aku harus lebih berhati-hati dalam menjaga barang. Mau tidak-mau aku harus mengulang pekerjaanku. Namun, ayah memaafkanku. Aku tahu bahwa ia kecewa, tapi tidak ada kata makian seperti yang aku bayangkan. Tidak ada kata capslock. Aku mulai terharu karena ayah berempati kepadaku. Aku berjanji, apapun yang akan terjadi esok, aku akan selalu menghadapi masalah dengan penuh percaya diri dan iman yang kuat. Semenit kemudian, aku tidak merasa kesepian lagi. Aku langsung bertindak. Banyak sekali yang harus aku lakukan!

 

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

One Response



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

no